Come Back

LARILAH, SELAMATKAN JIWAMU DARI MURKA ALLAH!

 

Oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto

Dikhotbahkan di Philadelphia Baptist Fellowship, 23 April 2006

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17)

 

Satu khotbah yang sangat berpengaruh dalam hidup saya adalah khotbah dari pengkhotbah Puritan yang bermana Jonathan Edwards yang berjudul “Sinners in the Hand of an Angry God.” Saya anjurkan Anda membaca khotbah Jonathan Edwards ini di www.jonathanedwards.com, karena saya sendiri telah membaca khotbah ini lebih dari sepuluh kali. Saya sendiri sangat terpukau oleh khotbah yang pernah menggoncangkan Amerika pada masa Kebangunan Rohani yang mulai tahun 1735 di bawah kepemimpinan Jonathan Edwards dan berlanjut sampai sekitar duapuluh lima tahun berikutnya. (R.L. Hymers, Jr. & Christopher Cagan, Today’s Apostasy, Oklahoma City, Oklahoma, Hearthstone Publishing, 1999, hal. 193). Dan dalam khotbah ini saya akan banyak menyingkapkan kebenaran yang terkandung dalam khotbah Jonathan Edwards yang berjudul “Sinners in the Hand of an Angry God” ini.

Larilah, selamatkan jiwamu! Ini adalah seruan malaikat setelah menuntun Lot bersama dengan keluarganya keluar dari kota di mana Lot tinggal. Perintah yang tegas ini diberikan karena sebelumnya walaupun Lot sudah mendengar bahwa Sodom dan Gomora akan segera dibinasakan, namun Lot berlambat-lambat (Kejadian 19:16) untuk segera meninggalkan kota itu. Sebenarnya Lot sudah mendengar berita pembinasaan kota itu langsung dari malaikat dan ada indikasi bahwa Lot sebenarnya percaya bahwa hal itu akan benar-benar terjadi (Kejadian 19:14), namun toh Lot tidak segera lari meninggalkan kota itu, hingga akhirnya tangan Lot, istri dan kedua anaknya dipegang oleh dua malaikat itu dan diseret ke luar kota. Setelah sampai di luar kota ada indikasi bahwa Lot masih berat meninggalkan kotanya, rumahnya, hartanya dan berbagai kesenangan duniawi yang ditawarkan oleh kota itu. Sehingga kedua malaikat itu berkata:

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).

 

Itu lah sebenarnya gambaran dari manusia berdosa. Mereka begitu menikmati semua kesia-siaan yang ditawarkan oleh dunia ini. Mereka merasa begitu berat untuk meninggalkan kota kebinasaannya. Bahkan mereka justru menghina, mentertawakan dan bahkan mengutuki orang lain yang bergegas meninggalkan kota kebinasaan itu seperti digambarkan oleh penkhotbah Baptis Puritan, John Bunyan dalam novelnya yang berjudul “Perjalanan Seorang Musyafir.” Di mana dalam bagian pertama buku ini Bunyan menceritakan bagaimana tokoh utama dalam novel ini yang bernama Sang Musyafir diperingatkan untuk segera meninggalkan kotanya, yaitu kota kebinasaan. Ia berkata kepada anak-anak dan istrinya, “Saya diperingatkan, bahwa kota kita ini akan terbakar habis oleh api dari sorga. Semua kita pasti akan binasa kecuali kita mendapat jalan untuk selamat” (Perjalanan Seorang Musyafir, disarikan oleh Dr. Leatha Humes dan diterjemahkan oleh H.A. Oppusunggu, diterbitkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, hal. 2. Untuk buku dalam bahasa Inggrisnya “Pilgrim Progress” dapat Anda download dari www.rlhymersjr.com). Dalam kisah ini diceritakan bahwa akhirnya Sang Musyafir segera meninggalkan kotanya, yaitu kota Kebinasaan, dan anak-anak serta istrinya memanggil-manggil supaya ia kembali, namun ia terus berjalan meninggalkan kota itu. Semua penduduk kota itu ada yang memarahi dia, ada yang mengutuk dia, ada yang berteriak-teriak memanggil agar di kembali dan dua orang di antara mereka mengejar dia untuk membujuknya kembali, mereka itu adalah  Si Degil dan Si Penurut. Namun Sang Musyafir tetap pada pendiriannya bahwa ia percaya kotanya akan dibinasakan oleh api dan ia harus segera meninggalkan kota itu untuk menuju kota yang Indah.

Itu lah gambaran dari orang-orang berdosa yang bukan hanya tidak mau segera meninggalkan dunia kesia-siaan yang akan segera binasa ini, namun malah menghina, mengejek, mengutuki orang lain yang memutuskan untuk meninggalkan dosanya demi beroleh keselamatannya. Seperti itu jugalah keluarga Lot yang begitu berat untuk meninggalkan Sodom dan Gomora, walaupun mereka tahu persis bahwa kota itu akan segera dibinasakan oleh api dari Sorga. Dan ayat kita ini merupakan seruan bagi Lot dan keluarga untuk segera lari, begitu juga di dalamnya terkandung kebenaran bagi kita: Larilah, selamatkanlah jiwamu. Karena murka Allah sedang bergelantung di atas mu yang bagaikan api yang akan segera membinasakan Anda dan dunia ini, jika Anda tidak segera meninggalkan keduniawian dan lari untuk menyelamatkan diri dari murka Allah.

 

Bagaimana caranya agar kita terhindar atau selamat dari murka Allah itu?

 

I.                   Larilah Kepada Kristus, Selamatkanlah Jiwamu!

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu….” Kejadian 19:17).

 

Api murka Allah sudah bergayut di atas kota Sodom dan Gomora dalam dalam hitungan menit api itu akan menyambar dan membakar habis semua mahkluk hidup dan semua benda yang ada di kota itu. Tidak ada lagi jalan keluar untuk menyelamatkan diri, jika api itu sudah terlanjut diturunkan atas kota itu. Tak ada satu nyawapun yang akan selamat dari sambaran api yang diturunkan dari Sorga itu, kecuali mereka tidak segera keluar dari kota itu dan lari jauh-jauh dari perbatasan kota dan menuju pegunungan. Namun hanya Lot dan istrinya beserta kedua anaknya yang sudah keluar dari kota itu, dan yang lain tidak. Bahkan jika Lot dan keluarganya masih ada di perbatasan kota dan tidak segera lari ke pegunungan, sambaran atau panasanya api itu bisa saja menghanguskan mereka. Oleh sebab itu malaikat itu berkata:

 

Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).

 

            Itu lah gambaran orang berdosa yang berada di kota Kebinasaan ini. Itu lah gambaran orang berdosa yang berada dalam kehidupan duniawi ini yang tidak mau bertobat dari dosa-dosanya, namun malah semakin menumpuk dosa-dosanya seperti yang digambarkan dalam kisah orang-orang dari Sodom dan Gomora yang terus menerus menumpuk dosa-dosa mereka, bahkan menterwakan berita kebenaran yang disampaikan oleh Lot (Kejadian 19:14). Mereka tidak menyadari bahwa api murka Allah sudah bergayut di atas kota mereka dan akan segera melalap habis dan membinasakan mereka semua dalam sekejab, dan tak seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya, bahkan tak seorangpun yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri jika api itu sudah diturunkan. Mereka bisa selamat hanya bila mereka telah berada di luar kota itu sebelum api itu di turunkan. Sama halnya dengan Anda hanya bisa selamat jika Anda telah berada di luar kota Kebinasaan, di luar kehidupan duniawi Anda, yaitu ketika Anda bertobat dan berlari dari keduniawian yang penuh dosa dan masuk ke dalam Kristus yang dapat menyelamatkan Anda dari murka Allah.

            Jonathan Edwards menggambarkan bahwa gumpalan awan hitam murka Allah itu sekarang sedang bergayut persis di atas kepala Anda, di mana di dalamnya penuh dengan badai maut, serta halilintar yang siap menyambar Anda. Dan jika Tuhan tidak menopang Anda pastilah murka Allah itu sudah pasti menyambar Anda. (www.jonathanedwards.com). Dan ketahuilah jika Tuhan masih tidak membiarkan itu menyambar Anda, itu artinya Tuhan masih memberikan kepada Anda untuk lari dari kota Kebinasaan yang menggambarkan kehidupan keduniawian kita ini, sebelum kebinasaan oleh murka Allah itu menimpa dunia. Bagaikan dua malaikat yang menyeret Lot keluar dari kota Sodom-Gomora dan meminta mereka segera lari untuk menyelamatkan diri, begitu jugalah Allah sedang memegang tangan Anda menyeret Anda keluar dari keduniawian ketika Anda mendengar atau membaca khotbah ini serta disadarkan akan kondisi Anda yang berada di bawah bahasa yang teramat mengerikan. Oleh sebab itu, Tuhan saat ini berkata kepada Anda: “Larilah kepada Kristus, selamatkanlah dirimu!” Di dalam Dia yang adalah Juruselamat dan gunung batu, Anda akan benar-benar selamat dari murka Allah yang dahsyat.

Namun yang menyedihkan adalah, walaupun Tuhan sudah berkali-kali memperingatkan kepada Anda, namun Anda masih seperti tidak menyadari akan bahaya murka Allah yang dahsyat itu. Seorang pengkhotbah Puritan dari Inggris, Richard Baxter berkata, “Walaupun Tuhan dengan sabar menahan untuk mendatangkan penghakiman-Nya, orang-orang yang tidak bertobat terus menerus hidup dalam bahaya penghukuman.” (R.L. Hymers, A Puritan Speaks To Our Dying Nation, Oklahoma City, Oklahoma, Hearthstone Publishing, 2002, hal. 26). Oleh sebab itu, sadarlah dan bertobatlah!

            Ini lah yang digambarkan oleh Sang Musyafir, tokoh dalam novel Perjalanan Orang Musyafir. Sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Kebinasaan yang akan segera dibinasakan oleh api murka Allah, ia sangat bersusah hati. Ia tidak bias tidur, walaupun ia telah menjelaskan kepada anak-anak dan istrinya, namun keluarganya tidak mempercayainya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi meninggalkan kota Kebinasaan itu. Meninggalkan keduniawian dan berjalan menuju pertobatan sejati. Richard Baxter berkata, “Mereka hidup di bawah murka Allah. Mereka berada di bawah kutuk hukum Taurat. Mereka tidak mengetahui kapan hari penghakiman itu akan dijatuhkan kepada mereka. Tidak ada orang yang belum bertobat dapat menjelaskan berapa lama lagi ia akan hidup di dunia ini. Penghakiman dan kematian dapat datang setiap saat. Orang yang akan pergi ke Neraka tidak tahu bila mungkin saja itu terjadi hari ini. Setiap orang, jika mereka memikirkan semua ini, mereka tidak pernah dapat merasa damai dan aman. Tiap detik Anda hidup di tepi jurang Neraka!” (ibid).

Jonathan Edward menggambarkan bahwa Tuhan menempatkan orang berdosa di atas tempat yang licin (Mazmur 73:18). (1) Mereka senantiasa terancam oleh kehancuran, karena senantiasa terancam jatuh tergelincir dan hancur binasa; (2) Mereka senantiasa terancam oleh kehancuran yang bisa terjadi setiap saat; (3) Mereka dapat jatuh oleh karena dirinya sendiri, tanpa harus dijatuhkan oleh orang lain, karena licinnya tempat di mana mereka berdiri; dan (4) Jikalaupun mereka belum jatuh, itu karena Allah masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Sehingga tatkala mereka bertobat, Tuhan akan mengangkat mereka dari tempat yang licin itu, sehingga mereka tidak jatuh dan binasa. (ibid)

Dan Jonathan Edwards juga menggambarkan bahwa orang yang belum bertobat sedang berjalan di atas lubang neraka dengan penutup yang rapuh, dan beberapa bagian tempat penutupnya sangat rapuh sekali, dan celakanya bagian-bagian yang seperti itu tidak terlihat, sehingga jika tanpa sengaja diinjak, maka jebloslah tempat itu dan dengan sendirinya orang berdosa tersebut terjatuh dan meluncur ke dalam neraka. (ibid). Begitu juga Richard Baxter memperingatkan, “Anda bisa saja jatuh segera ke dalamnya. Anda mungkin berada di Neraka satu jam dari sekarang! Setiap pagi ketika Anda bangun, dan setiap malam ketika Anda merebahkan tubuh Anda ke tempat tidur, Anda tidak akan pernah yakin apakah Anda akan berada di Neraka di hari esok.” (ibid)

Oleh sebab itu, larilah segera kepada Kristus, sang gunung batu perlindungan. Selamatkanlah dirimu dengan percaya kepada Dia sang Juruselamat. Dia adalah jalan yang disedikan Allah untuk terhindar dari murka-Nya yang dahsyat. Larilah segera, selamatkanlah jiwamu, sebelum semuanya menjadi sangat terlambat dan Anda binasa dalam ketidakbertobatan Anda.

 

II.                 Jangan Pernah Menoleh Ke Belakang

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).

 

            Malaikat itu berkata kepada keluarga Lot, “Larilah, selamatkan nyawamu; janganlah menoleh ke belakang. Anda tentu masih ingat apa yang terjadi pada diri istri Lot ketika ia menoleh ke belakang, ia menjadi tiang garam. Ketika mereka lari menjauh dari kota itu, Sodom-Gomora dilalap api. Tidak ada yang tersisa di sana. Tidak ada apapun yang berarti di belakang mereka. Hanya kebinasaanlah yang tersisa. Hanya murka Allah lah yang menyala-nyala menghanguskan dan membinasakan kota itu. Menengok ke belakang sama dengan memandang kebinasaan. Menengok ke belakang sama dengan menantang murka Allah, karena sebelumnya Allah sudah memperingatkan agar mereka tidak pernah menengok ke belakang.

            Istri Lot adalah gambaran dari orang berdosa yang sudah mengalami kebangunan jiwanya, namun belum masuk ke dalam pertobatan. Ia tahu tentang murka Allah, ia tahu segala sesuatu yang didunia ini sia-sia, bahkan ia percaya firman Allah, namun ia belum dengan sepenuhnya percaya ke dalam Kristus sendiri, sehingga ia masih melihat bahwa ada sesuatu di dunia masih berharga bahkan lebih berharga dari keselamatan jiwanya di dalam Kristus itu sendiri. Oleh sebab itu, Yesus memberikan peringatkan kepada mereka, “Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 17:32-33).

            Jika Anda sudah berlari kepada Kristus untuk menyelamatkan jiwa Anda, lakukan itu sampai Anda benar-benar masuk ke dalam diri-Nya. Jangan pernah menoleh ke belakang. Fokuskan pandangan Anda hanya kepada Dia saja.

Richard Baxter berkata, “Keinginan orang-orang yang belum bertobat adalah hal-hal yang sensual/nafsu, itulah yang mereka sukai. Mereka tidak pernah dapat merasa cukup tentang semua hal ini. Orang yang tamak tidak akan pernah merasa cukup seberapapun banyaknya uangnya. Orang ambisius tidak akan pernah merasa cukup dengan gengsi yang telah ia capai. Orang-orang yang hanya memikirkan hal-hal yang sensual tidak akan pernah dapat dipuaskan. Secara menyeluruh hidup mereka menginginkan hal-hal kedagingan (Roma 13;14), dan memenuhi keinginan-keinginannya (Efesus 2:3)” (ibid, hal.75)

Tunjukkanlah komitmen Anda yang sungguh-sungguh ingin lari menyelamatkan diri dari murka Allah. Bertobatlah! Karena pertobatan itu akan mengubah cara pandang dan afeksi Anda. Richard Baxter melanjutkan kalimatnya, “Namun ketika anugerah pertobatan datang, itu akan mengubah semua keinginannya. Ketika anugerah yang mempertobatkan itu datang kepada Anda, itu akan membuat jiwa Anda haus akan Yesus. Kemudian Anda akan mencoba untuk berseru seperti Daud, “Jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus” (Mazmur 143:6). Kemudian kerinduan jiwa Anda akan menjadi bagi Kristus. Anda akan melihat bahwa Dia lebih Anda inginkan dari pada, emas (Mazmur 19:10).” (ibid) Jadikan ini sebagai tiang garam itu sebagai tugu peringatan; “Ingatlah akan isteri Lot!

            Tidak ada sesuatupun yang indah di belakang Anda dibandingkan dengan semua yang Anda peroleh di depan sana, ketika Anda telah menemukan diri Anda berada dalam Kristus. Di belakang Anda hanya ada murka Allah yang dahsyat, yang membinasakan, yang menghanguskan dan begitu mengerikan. Jangan menoleh ke belakang dan menantang murka Allah yang begitu mengerikan. Oleh sebab itu, Jonathan Edward pernah berkata bahwa murka Allah itu tiada batasnya. Jika hanya murka manusia, murka seorang raja yang terkejam sekalipun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan murka Allah.(ibid).  Oleh sebab itu, janganlah menoleh ke belakang, menantang murka Allah yang dahsyat itu.

            Dalam Perjalanan Seorang Musyafir, John Bunyan mengisahkan ketika si Musyafir pergi meninggalkan kota Kebinasaan menuju sinar terang -- yaitu pertobatan sejati atau keselamatan di dalam Kristus yang digambarkan dalam novel ini jatuhnya beban dipundaknya yang menggambarkan beban doa ketika si Musyafir sampai di bawah salib Kristus – Si Degil dan Si Penurut mengejarnya untuk membujuknya pulang. Tetapi jawab Musyafir, “Tak mungkin! Kalian tinggal di kota kebinasaan. Siapapun yang mati di sana, pasti akan tenggelam ke dalam lautan api dan belerang yang menyala-nyala. Larilah bersama saya.”

Si Degil menjawab, “Apa? Meninggalkan semua keluarga, teman dan kesenangan?” Karena Musyafir menolak untuk kembali, maka Si Degil akhirnya kembali ke kota Kebinasaan, namun setelah Musyafir menceritakan tentang negeri indah yang penuh kebahagian membuat Si Penurut tertarik untuk mengikutinya. Akhirnya si Penurut ikut bersama Musyafir menuju Negeri yang Indah. Namun ketika tanpa sengaja mereka terperosok ke dalam rawa-rawa patah semangat Si Penurut mengumpat, “Apakah ini yang dimaksud dengan Negeri yang Indah yang penuh bahagia itu? Kalau saya berhasil keluar dari Lumpur ini, saya tidak mengikutimu lagi mencari Negeri Sorgawimu itu.” Kemudian Si Penurut kembali ke kota Kebinasaan.

John Bunyan menuliskan novel ini sebagai gambaran dari kehidupan orang Kristen di zamannya dan saya percaya bahwa itu juga sangat cocok untuk menggambarkan orang Kristen pada zaman ini. Ada banyak orang yang menyebut dirinya “Kristen” namun sesungguhnya belum bertobat. Mereka telah mengetahui bahwa dunia akan binasa. Mereka mengetahui bahwa ada Negeri Indah di Sorga dan mereka tahu bahwa melalui Yesus mereka dapat masuk ke Negeri Indah sorgawi itu. Namun oleh karena kesenangan duniawi masih menarik mereka, karena tantangan untuk menjadi seorang murid Yesus tidaklah ringan, maka mereka memutuskan untuk menoleh ke belakang, kembali ke kota Kebinasaan menantang murka Allah yang dahsyat.

Rumah Sorgawi menunggu setiap kita, mengapa Anda mau kembali ke dunia yang akan binasa. Pulanglah kepada Bapa untuk memperoleh kebahagiaan. Untuk menikmati perjamuan pesat Anak Domba. Dan janganlah kembali ke dunia yang akan dibinasakan. Jangan hampiri murka Allah dengan kembali ke dunia, kota Kebinasaan, Sodom dan Gomora.

Dengarkanlah lagu merdu untuk Anda yang dikarang oleh Will L. Thompson ini:

 

Sungguh lembut suara Yesus memanggil:

Panggiln bagi engkau

Lihatlah, dia di pintu menunggu;

Sambutan bagi engkau

 

Jangan segan bila Yesus mengajak;

Ajakan bagi engkau

Jangan enggan menerima kasih-Nya;

Kasih-Nya bagi engkau

 

Pulang, pulang!

Yang kelelahan, pulang!

Sungguh lembut suara Yesus memanggil;

“Orang berdosa, pulanglah!”

                (Will L. Thompson, Softly and Tenderly. 1880).

 

            Dengan lemah lembut Tuhan Yesus memanggil, “Hai, orang berdosa, pulanglah!” Jangan menoleh ke belakang, dunia dan kota Kebinasaan itu atau apalagi kembali ke sana. Sebenarnya jika Anda menyadarinya, sekalipun Anda begitu mencintai dunia, namun bumi ini muak dengan Anda. Maka pulanglah ke rumah Bapa. Sambutlah panggilan Yesus. Datanglah kepada Dia. Bertobatlah dan terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda.

            Jonathan Edwards berkata bahwa “jika bukan karena kehendak Tuhan, maka bumi ini tidak akan mau menahan Anda barang sedetik pun. Karena Anda adalah beban bagi bumi ini; alam  semesta mengeluh karena kehadiran Anda; dan dengan tidak rela semua makhluk ciptaan-Nya menjadai bahan eksploitasi kebobrokan Anda; mata hari tidak rela bersinar untuk Anda yang melayani dosa dan Setan; bumi tidak rela memberikan hasilnya untuk memuaskan nafsu Anda dan juga tidak rela menjadi panggung pertunjukkan dosa-dosa Anda; udara tidak rela memberikan dirinya untuk Anda hirup sebagai nafas kehidupan, karena Anda hidup untuk melayani musuh Tuhan. Semua ciptaan Tuhan baik adanya dan diciptakan agar melaluinya manusia melayani tuhan, bukan melayani kepentingan lain, maka segala ciptaan meratap karena telah disalahgunakan untuk tujuan yang jelas-jelas bertentangan dengan sifat dan maksud mengapa mereka diciptakan. Oleh sebab itu, dunia akan melemparkan Anda keluar jika tanpa ada campur tangan Allah yang berdaulat.” Oleh sebab itu, pulanglah kepada Bapa. Dunia tidak rela Anda tinggali sementara Anda terus menerus hidup dalam dosa.

Cepat larilah! Selamatkanlah dirimu dari murka Allah! Pandanglah kepada Yesus yang memanggil Anda dengan suaranya yang lembut dan jangan pernah menoleh ke belakang. Tidak ada sesuatu yang indah di belakang Anda, selain kebinasaan dan api murka Allah.

 

III.             Janganlah Berhenti  di Lembah Dosa, Namun Larilah ke Gunung Batu yang Teguh, yaitu Kristus

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17)

           

Kejadian 19: 25-28 menjelaskan bahwa bukan hanya Sodom dan Gomora yang dilalap api, namun bahkan juga Lembah Yordan.

 

“Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu, dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan” (Kejadian 19:27-28)

 

            Berhenti di Lembah Yordan sama dengan membiarkan diri terbakar api murka Allah. Oleh sebab itu, Tuhan memerintahkan Lot dan keluarganya untuk lari ke pegunungan. Gambaran ini mengingatkan saya akan tiga kondisi manusia yang ada di dunia ini sebelum mereka menemukan Gunung Batu yang teguh, yaitu Yesus Kristus.

            Dr. R.L. Hymers menjelaskan bahwa sebelum seseorang benar-benar mengalami pertobatan sejati, sebelum orang itu benar-benar diselamatkan di dalam Yesus Kristus, biasanya ia harus melewati tiga states atau kondisi, yaitu status duniawi (natural state), status bangun (awakening state) dan status pertobatan (the state of conversion). (Dr. R.L. Hymers, Jr., The Church That Will Be Left Behind, Oklahoma City: Oklahoma, Heartstone Publishing, 2001, hal. 77-85).

            Pertama, Manusia dalam Status Duniawinya. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14). Itulah kondisi Anda jika Anda belum mengalami pertobatan secara batiniah (inward). Anda disebut “manusia duniawi” karena itu adalah kondisi alami dari setiap orang. Kita dilahirkan dalam situasi ini. Kita pada dasarnya adalah “orang-orang yang harus dimurkai” (Efesus 2:3). Setiap orang yang tidak pernah mengalami pertobatan batiniah ada dalam “status duniawi.”

            Setiap orang yang belum bertobat dideskripsikan dalam Yesaya 53:3 ini. Setiap orang yang belum bertobat menutup mukanya dari Yesus, walaupun banyak orang tidak menyadarinya. Dan dalam Yesaya 53:6 digambarkan seperti domba, Anda mengikuti “jalan Anda sendiri.” Anda “tersesat” dari Kristus. Ada enam cara yang berbeda deskripsi dari orang yang “tersesat” dalam kondisi manusia duniawi ini yang diberikan oleh Dr. R.L. Hymers, Jr. di sini, yaitu:

 

1.       Orang-orang yang berpikir seperti atheis telah tersesat. Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa “orang bodoh berkata dalam hatinya, ‘Tidak ada Allah’” (Mazmur 53:1). Jadi, Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa para atheis itu adalah orang-orang “bodoh.” Mengapa Anda yang adalah atheis dikatakan bodoh? Ayat ini melanjutkan demikian, “Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 53:1). Atheis tidak percaya di dalam Tuhan karena ia penuh dengan dosa, dan menghasihi hidup yang penuh dengan dosa. Ia mengasihi dosa sehingga menolak ide tentang Tuhan. Para psikiatris menyebutnya sebagai respon emosional, “pengingkaran.” Jika Anda adalah seorangatheis, itu karena anda berada dalam status “pengingkaran” (state of denial). Anda mengingkari eksistensi Allah karena Anda mengasihi dosa, Anda sangat menikmati kehidupan yang penuh dosa dari pada secara serius mempertimbangkan Yesus Kristus. Anda tersesat dalam hidup yang penuh dosa dan pengingkaran psikologis.

 

2.       Orang yang menolak keilahian Kristus juga sedang tersesat. “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6). Banyak orang yang menolak fakta bahwa Allah menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus.  Itulah sebabnya mengapa mereka mengingkari penebusan, pengorbanan Darah Kristus sebagai pembayaran atas segala dosa kita. Jika Anda tidak percaya keilahian Kristus, penyaliban nampak seperti kematian yang tidak mengandung makna apa-apa bagi Anda, dari pada sebagai penebusan dosa yang disediakan oleh Allah Putera. Walaupun Kristus  menanggung “kesalahan-kesalahan” mereka” (Yesaya 53:11), orang-orang yang menolak keillahian Kristus tidak akan melihat kebutuhan mereka akan Darah-Nya yang dapat menyucikan dosa-dosa mereka (1 Yohanes1:7). Jika Anda tidak berpikir bahwa Anda memerlukan penyucian dosa-dosa Anda di dalam Darah-Nya, Anda telah “tersesat.”

 

3.       Orang-orang yang berpikir seperti kebanyakan orang-orang Timur juga telah tersesat. Orang-orang ini adalah mereka yang berpikir bahwa perbuatan baik dapat mendatangkan “kesuksesan” dan “berkat.” Mereka tidak pernah memikirkan istilah-istilah tentang dosa dan pengampunan. Mereka hanya tertarik tentang kehidupan yang bahagia dan makmur.  Mereka tidak pernah berpikir tentang bagaimana agar dosa-dosa mereka diampuni. Mereka seperti orang bodoh yang hanya berpikir tentang berkat-berkat materi saja. Allah berkata kepada manusia yang memiliki pikiran seperti ini, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Lukas 12:20). Orang yang hanya tertarik untuk memperoleh “kesuksesan” dan berbagai “berkat” fisikal adalah orang bodoh karena dosa-dosanya tidak memperoleh pengampunan, dan ia akan masuk ke Neraka ketika ia mati. Orang-orang yang berpikir dengan cara demikian adalah telah tersesat. Mereka mengikuti “jalan mereka masing-masing” (Yesaya 53:60.

 

4.       Orang yang percaya bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan perbuatan baik juga sedang tersesat. Mereka meraa bahwa mereka akan diselamatkan dengan mengakui dosa-dosa mereka, mengikuti komuni, memanjatkan doa-doa mereka, dan berusaha berbuat baik. “Oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Roma 10:3). Orang-orang yang berpikir demikian merasa bahwa mereka dapat memperoleh keselamatan dengan berbuat sebaik mungkin. Mereka menolak “pemberian kebenaran” yang Kristus impartasikan kepada orang-orang yang bertobat (band. Roma 5:17). Dari pada melihat keselamatan sebagai kasih karunia, mereka lebih berpikir bahwa mereka dapat memperolehnya dengan usahanya sendiri. Baru-baruini ada seorang muda berbicara kepada saya bahwa ia berpikir ia telah diselamatkan oleh karena ia telah mengubah cara hidupnya. Pandangan ini tidak dapat diperhitungkan sebagai sesuatu yang dalam, karena dosa pikiran dan hati bersifat batiniah. Pemikiran seperti ini tidak akan menyelamatkan Anda dari dosa-dosa batiniah (inward sins) atau dosa-dosa masa lalu. Anda harus memberikan dosa-dosa Anda disucikan oleh darah Kristus (1 Yohanes 1:7). “karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa” (Imamat 17:11). Orang-orang yang percaya bahwa keselamatan dicapai dengan usaha sendiri adalah sudah tersesat. Mereka “masing-masing mengambil jalannya sendiri” (Yesaya 53:6).

 

5.       Orang-orang yang mengutamakan emosi sesat dan mengambil jalannya sendiri-sendiri. “tanda-tanda ajaib” telah “menipu” mereka” (Matius 24:24). Mereka berpikir bahwa pekerjaan Roh Kudus memberikan mereka “perasaan tenang,” ketika  berbalik kepada kebenaran! Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa” (Yohanes16:8). Tujuan yang benar dari Roh Kudus adalah membuat Anda menyadari dosa-dosa Anda. Orang-orang yang mengutamakan emosional biasanya berpikir bahwa perkerjaan Roh Kudus membuat mereka merasa tenang! Mereka  tersandung dan tersesat “dalam jalannya sendiri” (Yesaya 53:6), karena mereka menolak menginsafi dosa-dosa mereka, dan oleh sebab itu tidak dapat bertobat. Dalam penolakan mereka untuk masuk ke dalam keinsafan, membuat mereka ‘berjalan menurut jalan mereka masing-masing” (Yesaya 53:6).

 

6.      Banyak orang Injili yang juga tersesat. Mereka melupakan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma (Efesus 2:8-9). Mereka berpikir bahwa mereka diselamatkan karena mereka telah belajar dan memahami bagaimana cara memperoleh keselamatan atau bahkan telah memanjatkan doa seorang berdosa, atau membuat suatu “keputusan” (decision). Mereka kaget ketika ternyata mereka dikirim ke Neraka pada hari Pengakiman akhir (band. Matius 7:22-23).  Orang-orang ini berpikir bahwa mereka telah diselamatkan hanya sekedar dengan “keputusan” atau “decision” manusia telah tersesat. Mereka “masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (Yesaya 53:6).

 

Manusia dalam kondisi duniawinya dan ketidakbertobatannya menolak yesus Kristus. Anda mungkin berkata bahwa Anda percaya di dalam Dia, namun dari hati yang paling dalam (inner heart) Anda sesungguhnya menolak Dia.

 

Kedua, Manusia dalam Status Terbangun (Awakening State). Anda bangun dari ide-ide yang salah yang Anda pernah miliki ketika Anda masih dalam status duniawi. Alkitab berkata, Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5:14).

Anda bangun dari pikiran-pikiran yang sia-sia tanpa Kristus. Orang-orang ini menyadari fakta bahwa mereka akan mati. Mereka bangun dan menyadari bahwa mereka belum siap untuk mati. Apakah Anda telah siap untuk mati? Apakah Anda telah memandang Allah yang Mahatinggi? Sudahkah Anda bangun akan fakta bahwa kematian itu akan segera datang? Pikiran yang serius tentang kekekalan akan memenuhi pikiran Anda ketika Anda telah bangun.

Anda juga akan bangun untuk melihat dosa yang begitu kejam yang telah Anda perbuat. Anda akan memikirkan dosa-dosa besar yang pernah Anda lakukan. Anda akan menjadi ngeri menyadari itu.Anda akan berpikir tentang fakta bahwa Allah tahu tentang semua dosa itu, dan itu semua telah dicatat dalam buku-buku-Nya di Sorga (band. Wahyu 20:12-15). Anda akan merasa jijik dan malu terhadap dosa-dosa Anda sendiri ketika Anda telah bangun.

Anda juga akan berpikir tentang hati Anda yang penuh dengan dosa ketika Anda bangun. Pikiran ini juga akan masuk ke dalam pikiran Anda: “Hatiku penuh dengan dosa dan sangat jauh dari Tuhan.” Anda akan merasa mengeri ketika memikirkan diri Anda yang penuh dengan dosa, hati Anda yang tidak ada kasih kepada Tuhan, dan doa-doa Anda yang kering. Hati Anda yang mati di hadapan Tuhan akan sangat menderita ketika Anda bangun. Anda akan menyadari bahwa orang dengan hati yang penuh dosa seperti Anda  itu tidak memiliki pengharapan. Anda akan melihat betapa jahat dan bersalahnya Anda dalam pemandangan Allah yang mahakudus. Anda akan melihat bahwa tidak ada jalan keluar untuk lari dari murka Allah dan penghakiman-Nya. Anda akan memahami bahwa Anda  layak untuk dihukum oleh Tuhan ketika Anda mulai bangun! Anda akan berkata seperti John Newton, penulis lagu “Amazing Grace.

 

Oh Tuhan, betapa hinanya aku ini

Kotor dan najis!

Betapa beraninya aku bermain-main

Dengan banyak dosa seperti ini?

Apakah hatiyang kotor ini

Layak menjadi tempat Engkau berdiam?

Yang dalam setiap bagiannya,

Hanya kejahatan yang aku lihat!

("O Lord, How Vile am I" by John Newton, 1725-1807)

 

Tidak ada kebangunan tanpa sungguh-sungguh menginsafi dosa dan mengutuki diri sendiri. Tidak dapat ada pertobatan yang sungguh-sungguh tanpa rasa bersalah yang teramat dalam.

 

Dan akhirnya yang ketiga adalah manusia dalam status bertobat.  Ketika seorang laki-laki atau wanita mengalami pertobatan, mereka berada pada status ketiga ini. Pertama, dulunya mereka adalah manusia duniawi. Mereka telah menolak Kristus, atau mereka mereka mengatakan menerima Dia namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Mereka menghidupi kehidupan mereka dengan aman, tanpa takut  akan Neraka atau penghukuman atas dosa-dosa mereka. Mereka masih tertidur dalam dosa. Mereka menghibur diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa mereka tidak lebih jelek dari pada orang lain. Mereka dulunya berpikir bahwa  mereka telah diselamatkn. Pada kenyataannya mereka “mati dalam kesalahan-kesalahan dan dosa” (Efesus 2:1). Namun mereka tidak mengetahui itu. Mereka telah bahagia dengan diri mereka sendiri.

Itulah cara Anda bukan? Anda berpikir bahwa Anda telah diselamatkan. Anda menipu diri Anda sendiri. Anda menipu diri Anda sendiri dengan berpikir bahwa Anda baik-baik saja, karena Anda ada dalam status duniawi.

Ketika Anda bangun, Anda akan dilanda oleh kengerian setelah menyadari betapa butanya Anda selama ini! Anda akan menyadari betapa jahatnya dosa-dosa Anda. Anda tidak mau tahu bagaimana agar luput dari hukuman terhadap dosa-dosa Anda. Anda akan menjadi putus-asa.

Selanujutnya Anda akan menyerah kepada Yesus Kristus, dan menyerahkan hidup Anda di dalam Dia. Pikiran Anda akan dipenuhi dengan pikiran tentang Yesus yang mati untuk membayar dosa-dosa Anda di kayu Salib. Anda akan dipenuhi dengan pikiran tentang Dia yang telah bangkit dari kematian dan naik ke Sorga, duduk di sebelah kanan Allah. Pikiran Anda akan tertuju kepada Kristus di Sorga. Anda akan disucikan dari dosa-dosa Anda oleh Darah-Nya. Dan kemudian Anda akan bertobat.

Janganlah berhenti di Lembah Yordan! Janganlah berhenti dalam kesalahfahaman Anda akan pertobatan Anda sendiri. Di mana Anda mungkin merasa telah bertobat, merasa telah diselamatkan, namun pada kenyataannya Anda masih dalam lembah natural state, lembah awakening state dan sesungguhnya belum sampai kepada Gunung Batu perlindungan, yaitu pada saat Anda mengalami pertobatan dan ketika seluruh beban dosa Anda menggelinding ke neraka tatkala Anda berada di bawah kaki salib Yesus Kristus dan kemudian nama Anda bukan lagi Musyafir, namun diganti menjadi Si Kristen.

 

“Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17)